Proses Pendaftaran Instalasi Biznet

Rabu, 29 April 2026: Provider Teknologi

Mekanisme Pengawasan TKA 2026

Jum'at, 27 Maret 2026: Sekolah Pendidikan TKA

Pemberlakuan Contra Flow di Simpang Exit Tol Parungkuda

Selasa, 24 Maret 2026: Foto Berita Fakta

"Jiwa Aceh" Masjid Raya Baiturrahman

Senin, 23 Maret 2026: Dakwah Masjid

Stasiun Pondok Jati

Selasa, 17 Maret 2026: Tour - Travel

Kemko Sultan Ammu Siap Diorder

Sabtu, 14 Februari 2026: UMKM

Terima Kasih

TELAH TERBIASA DALAM LITERASI

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita

Yasinta Moiwend kaget ketika pada suatu pagi yang tenang di bulan Juli, sebuah kapal raksasa bersandar di dermaga kampungnya. Kapal itu mengangkut ratusan eskavator dan dikawal pasukan militer Indonesia. Itulah rombongan pertama dari 2.000 alat berat yang datang ke Papua dalam Proyek Strategis Nasional untuk produksi pangan, energi biodiesel sawit, dan bioetanol tebu. 

Perempuan suku Marind Anim ini tak pernah tahu kalau kampungnya jadi titik nol dimulainya proyek konversi hutan terbesar dalam sejarah dunia modern. Luasnya mencapai 2,5 juta hektare. 

Vinven Kwipalo dari suku Yei juga terkejut ketika tanah marganya dipatok dengan tulisan: "Tanah milik TNI AD". Belakangan ia tahu, tanah itu diambil untuk pembangunan markas batalyon militer. Padahal di saat yang sama, ia menghadapi perusahaan perkebunan tebu yang juga menyerobot hutan marganya. 

Karena wilayah adatnya juga termasuk dalam konsesi, Franky Woro dan komunitas Awyu di Boven Digoel memasang palang adat dan salib raksasa yang dicat merah untuk menghadang perusahaan dan militer. Dikenal dengan Gerakan Salib Merah, aksi ini juga dilakukan suku-suku lain. Setidaknya 1.800 salib merah telah dipasang di Papua Selatan. Meski memakai simbol agama, gerakan ini tidak selalu disukai elit gereja. 

Film dokumenter "Pesta Babi" merekam bagaimana orang-orang Marind, Yei, Awyu, dan Muyu di selatan Papua, melawan proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu untuk bahan bakar kendaraan. Bersamaan dengan kisah mereka, juga tergambar isu separatisme dan 60 tahun operasi militer Indonesia yang terkait dengan penguasaan wilayah dan eksploitasi alam Papua. 

Mengganbungkan detil-detil rekaman di lapangan dan riset investigatif, Pesta Babi mengungkap relasi kepentingan industri bioenergi multinasional dengan proyek politik dan pembangunan pemerintah Indonesia yang berkedok "lumbung pangan" dan "transisi energi" selama tiga periode presiden. 

Film ini juga merekam bagaimana jaringan politikus, investor, militer, dan gereja berhadapan dengan gerakan sosial masyarakat dan komunitas adat. 

* * * 

Kayu besi rawa sepanjang 17 meter ini disiapkan untuk membuat salib. Melihat panjangnya timbul pertanyaan, siapakah yang akan disalib? Siapapun itu, pasti sesuatu yang lebih besar dari mereka. 

Tapi Franky Woro, Kasimilus Awe, dan warga suku Awyu di Papua Selatan ini, takkan melukai siapapun. Mereka memakai salib ini, sebagai tanda perlawanan. 

Yang mereka lawan, memang lebih besar. Yaitu, Pemerintah Republik Indonesia. Pemerintah sedang mengincar 2,5 juta hektare hutan orang Papua, untuk proyek tanaman industri pangan dan energi. 

Ratusan kilometer dari salib orang-orang Awyu itu, orang Muyu sedang menyiapkan gerakannya sendiri. Tapi, kali ini dalam bentuk sebuah pesta. Pesta yang disiapkan oleh marga Kimko Jinipjo, selama 10 tahun. 

Sosok di marga ini, adalah Wilem Kimko. Orang asli Papua, yang tak punya kartu identitas kewarganegaraan mana pun. Pesta adat ini sudah cukup langka. Tak hanya di Papua, bahkan di kawasan Pasifik dan peradaban Melanesia. 

"Saya khawatir jangan sampai anak-anak saya dan generasi berikutnya akan terusir seperti binatang, itu yang selalu saya pikir." 

Ada gagasan dan gerakan sosial di balik pesta orang-orang Muyu ini. Sama dengan gerakan salib merah, yang dimulai orang-orang Awyu. Salib ini akan menjadi yang terbesar, dari 1.800 salib merah yang telah ditancapkan berbagai suku di Papua Selatan, dalam 10 tahun terakhir. 

Ribuan salib merah yang dipadukan dengan palang adat, adalah tanda larangan yang menyatukan unsur-unsur adat dan agama. 

"Tanah ini milik: Somu Sobu Subang Kawasan Bersejarah dan Tanah Adat Suku Awyu. Kami Masyarakat Hukum Adat Awyu Melaksanakan Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35/PUUX/2012: Bahwa hutan ini adalah hutan adat, bukan hutan negara. Papua bukan tanah kosong. Wiha Nasohoa." 

"Kami percaya bahwa kalau memang kami sudah tidak mampu untuk menyelesaikan persoalan ini, dalam hal ini perusahaan bisa masuk berarti kami minta bantuan kepada nenek moyang dan Tuhan." 

"Atribut perang orang Awyu ini, yang diukir atau dilukis, digambar di batang salib ini, dengan tujuan bahwa kami larang dengan sangat keras. Jadi, apabila siapa pun baik dari antara kita sendiri yang melanggar batas, ataupun pihak lain yang mau mengganggu keselamatan hak tanah adat kami maka kami siap untuk melakukan perang." 

Salib-salib ini tidak ditancapkan di halaman-halaman gereja. Melainkan di tanah dan hutan adat, di dusun-dusun sagu, dan di tempat-tempat yang disakralkan. 

Sebab, 1.800 palang adat dan salib ini, memang bukan semata tentang agama. Tapi, untuk mencegah negara dan perusahaan memasuki tanah dan hutan adat mereka. 

"Papua. Bukan tanah kosong." 

Di zaman TikTok ini, kami ingin menceritakan semua ini lewat film yang pendek. Tapi kami jelas gagal. 

Disutradarai Dandhy Laksono dan Cypri Dale, Pesta Babi adalah rekaman praktik kolonialisme yang terjadi hari ini, tanpa menunggu menjadi sejarah. 

Disponsori oleh : Jubi Media - Pusaka Bentala Rakyat - Koperasi Indonesia Baru - Greenpeace Indonesia - Watchdoc - LBH Papua Merauke. 

Media YouTube: Redaksi JubiTV - Indonesia Baru - Bentala Rakyat - Greenpeace Indonesia - Watchdoc Documentary. 

* * * 

Transkrip: Moh. Hibatul Wafi ALBDZ. 

Sumber: Anita Andriany.

Sampurasun Aki Lengser dalam Pernikahan Adat Sunda

Welcome to our wedding Wulan & Fajrul, support by Jakarta Tenant Decoration. Pernikahan yang mengangkat dengan unsur tema Sunda ini sering membawa perhatian para tamu undangan. Apalagi kalau sudah muncul seorang kakek tua dalam pernikahan adat Sunda, yang biasa disebut dengan Aki Lengser atau Ki Lengser

Aki Lengser merupakan tokoh sentral dalam upacara pernikahan adat Sunda yang bertugas sebagai penasihat dalam pernikahan, panutan, dan penghantar pengantin. Ciri khas Aki Lengser adalah berperawakan bungkuk yang berpakaian adat serba hitam, sarung diikat di pinggang, ikat kepala (totopong), gigi ompong, dengan gerakan tari yang lucu. 

Makna adanya Aki Lengser ini sebagai simbol pengingat bahwa pernikahan bukan hanya soal pesta mewah, melainkan kesederhanaan dan kebahagiaan yang sejati. Aki Lengser biasanya disandingkan dengan tokoh bernama Ambu, wanita paruh baya yang mendampinginya. Lengser sendiri dalam budaya Sunda merupakan pesuruh dari kerajaan. 

"Ini si nini nya demen banget nyolekin bang jenang, terpesona ma kumis kali ya 😀." 

Aki Lengser seringkali berucap kata "Sampurasuuunnnn...." Sampurasun adalah kata sapaan dalam bahasa Sunda yang memiliki beberapa arti, yaitu Mohon maaf, Mohon ampun, Permisi, atau Ucapan keselamatan. Jadi, Sampurasun adalah ungkapan permohonan maaf yang artinya "saya mohon dimaafkan" yang dalam bahasa Sunda adalah "abdi nyuhunkeun dihapunten". 

Kata Sampurasun berasal dari bahasa Sunda Kuno yang merupakan singkatan dari kata sampura dan sapun. Sampurasun juga bisa diartikan sebagai penggalan dari istilah sampura atau samprana yang berarti sempurna. 

Sampurasun biasanya diucapkan sebagai kata pembuka ssat bertamu, memulai percakapan, atau bergabung ke kerumunan orang. Jawaban yang tepat untuk sampurasun adalah "rampes" yang artinya "baik dimaafkan". 

Don't regret your past. Just learn from it and improve. Every mistakes a lesson and every challenge an opportunity to grow. Instead of dwelling on what went wrong. Focus on what it taught you. The past is a guide, not life sentence. Use it to shape better future by embracing your growth, moving forward, and becoming the best version of yourself. 

Jangan sesali masa lalumu. Belajar saja darinya dan tingkatkan. Setiap kesalahan adalah pelajaran, dan setiap tantangan adalah kesempatan untuk berkembang. Daripada memikirkan apa yang salah. Fokus pada apa yang diajarkannya kepada Anda. 

Masa lalu adalah panduan, bukan hukuman seumur hidup. Gunakan itu untuk membentuk masa depan yang lebih baik dengan menerima pertumbuhan Anda, bergerak maju, dan menjadi versi terbaik dari diri Anda. 

Sumber: Zainal Abidin.

Pawai Agustusan 2023 - Jl. Lontar

Rabu, 17 Agustus 2023 - Dokumentasi yang diambil merupakan pengambilan video durasi pendek secara langsung di lapangan. Lokasi rekaman berada di Jl. Lontar, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. 

Taken by ALBOZ

Danau Cavalio Belakang TPU


Berita Acara (28/10) - Kecamatan Pesanggrahan akan mengadakan sebuah festival budaya Betawi dalam rangka Hari Sumpah Pemuda yang ke-68.

Acara festival ini akan diselenggarakan pada 31 Oktober s/d 01 November 2015 (Sabtu dan Minggu) di lokasi Danau Buatan Cavalio, Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan (belakang TPU Tanah Kusir).

Ajang festival ini akan dimeriahkan dalam beberapa kegiatan, diantaranya:
  • Pagelaran kesenian Betawi.
  • Games.
  • Lomba memancing.
  • Jalan santai.
  • Lomba mewarnai.
  • Parade pakaian daerah.
  • Bazar.
  • dan lain-lain.
Bagi komunitas ataupun pengusaha muda yang ingin mengikuti pameran bazar, panitia akan menyediakan 118 stand bazar yang akan berdiri dalam ajang festival tersebut. Fasilitas yang akan didapat oleh peserta pameran bazar adalah:
  • Tenda kerucut / sarnavil.
  • 1 meja dan 2 kursi.
  • Instalasi listrik 2 Ampere.
  • Keamanan.
Selain itu, panitia penyelenggara juga akan memberikan sejumlah hadiah kepada para pemenang yang mengikuti lomba, dalam bentuk doorprize dan sejumlah uang.

Info lebih lanjut dapat menghubungi ibu Ayu Megapolitan:
CP. 083895691709 / 081210107968 / Pin BB. 2A9E2E36


Latar Belakang Persiapan WRHF

Tahun 2013 merupakan tahun budaya bagi kota Jakarta dimana Bapak Gubernur mengadakan pesta budaya untuk para raj, sultan, pemangku adat, penglingsir untuk berkumpul di Jakarta dengan mempresentasikan budaya lokalnya masing-masing. Pagelaran budaya tersebut berupa prosesi raja, sultan, pemangku adat, penglingsir dihadapan para undangan dengan pakaian kebesaran. Selain itu, ada tarian, kuliner, pameran benda pusaka, dan lain sebagainya.

Acara tersebut melibatkan kerajaan-kerajaan yang ada di dunia yang masih aktif berhubungan dengan masyarakat. Hal ini penting sebagai pembelajaran bangsa Indonesia, terhadap kerajaan-kerajaan lain, selain yang berada di Solo dan Yogyakarta. Untuk itu, Bapak Gubernur memprogramkan acara tersebut akan diadakan setiap 2 tahun sekali. Dengan harapan peserta dari luar negeri jauh lebih banyak.

Akan tetapi pada kenyataannya ketika proses pesta 2013 berlangsung, peserta kerajaan dari luar negeri hanya sedikit, karena waktu persiapannya sangat pendek (3 bulan), sehingga tidak sesuai dengan harapan.

Setelah acara pesta 2013 selesai, kemudian diadakan evaluasi, akhirnya pemerintah dapat merumuskan kembali langkah-langkah yang harus dilakukan ketika akan mengadakan pesta raja-raja tahun 2015 sesuai programnya DKI. Salah satunya adalah waktu persiapan dan program yang harus tersusun rapi 1 tahun sebelumnya. Sehingga korespondensi dengan kerajaan-kerajaan di luar negeri mempunyai waktu yang cukup.

Untuk menunjang kegiatan tersebut diperlukan kegiatan awal berupa lokakarya, dengan pembicara dan narasumber yang dapat mewakili kebutuhan informasi kegiatan pesta 2015, serta para Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di seluruh Indonesia, dimana bekas-bekas kerajaan masa lalu berada. Dengan harapan pengelola kerajaan dan Dinas dapat bekerjasama untuk menampilkan budayanya pada pesta 2015 secara prima.

Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 12, 13, dan 14 Desember 2014 yang lalu di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Lokakarya Dibuka Oleh Gubernur DKI

Berita Acara (21/12) - Lokakarya pada festival agung keraton tanggal 13 Desember silam dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau rakyat ibukota sering memanggi namanya dengan sebutan AHOK. Beliau menyambut tamu undangan dari berbagai aspek, ras, dan agama dengan salam pembuka. Adapun teks yang disampaikan oleh beliau adalah sebagai berikut:
Assalamu'alaikum Wr. Wrb.
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita, Om Swastiasti, Namo Budaya.

Atas nama Pemerintah DKI Jakarta, saya menyambut baik penyelenggaraan Lokakarya Festival Agung Keraton Sedunia (World Royal Heritage Festival) 2014 sebagai tindak lanjut WRHF 2013 dan Persiapan WRHF 2015, sesuai dengan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyelenggarakan WRHF setiap dua tahun sekali.

Kita tentu bersyukur dan telah sama-sama menyaksikan pada event WRHF yang pertama kali tahun 2013 yang lalu, telah mendapatkan sambutan dan apresiasi dari berbagai kalangan, terutama masyarakat luas dan media massa. Kawasan Monas benar-benar menjadi lautan manusia yang dengan antusias menyaksikan perhelatan tersebut. Inilah gagasan besar dari Presiden RI Bapak Jokowi yang pada saat tersebut masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Visi beliau untuk mempromosikan kekayaan khasanah budaya Nusantara, sungguh merupakan cita-cita yang sangat mulia, yang ingin menegaskan bahwa kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kekayaan budaya Nusantara bahkan mampu memberikan sumbangan terhadap peradaban dunia. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta optimmis bahwa WRHF dapat menjadi event unggulan dan agenda utama festival-festival di Jakarta, dan sekaligus menjadi daya tarik bagi kunjungan wisatawan Nusantara dan wisatawan mancanegara.

Dengan demikian, Lokakarya ini diharapkan dapat menghasilkan point-point penting dan sumbang saran untuk penyelenggaraan WRHF tahun 2015 mendatang, sebagai berikut:
  1. WRHF mampu menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keragaman budaya tetapi tetap bersatu dalam Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
  2. Jakarta sebagai Ibukota Negara dan “Jendela Indonesia” dapat menjadi pintu gerbang utama wisatawan mancanegara, dan pusat wisatawan nusantara, dengan berbagai event budaya baik nasional maupun internasional.
  3. Mengangkat citra Jakarta sebagai Destinasi Pariwisata berbasis budaya dan heritage yang mempunyai daya saing di kawasan Asia.
Akhirnya, dengan memohon kekuatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Lokakarya Festival Agung Keraton Sedunia (World Royal Heritage Festival) serta Peluncuran Logo dan Website WRHF saya nyatakan dimulai.

Selamat mengikuti Lokakarya, Semoga sukses….
Enjoy Jakarta…………!!!
Begitulah teks yang disampaikan oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Skenario World Royal Heritage Festival 2014

Berita Acara (12/12) - Sebagai tindak lanjut event Festival Agung Keraton Sedunia tahun 2013 lalu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta akan menyelenggarakan Lokakarya Festival Agung Keraton Sedunia (World Royal Heritage Festival) pada tanggal 12 s.d. 14 Desember 2014 di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Arie Budhiman mengatakan bahwa “Tujuan dari Lokakarya ini adalah untuk melakukan evaluasi penyelenggaraan WRHF 2013 dan menampung sumbang saran dan menyusun perencanaan yang lebih matang untuk penyelenggaraan WRHF 2015 mendatang. Sesuai dengan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahwa WRHF akan menjadi agenda rutin setiap dua tahun sekali. Diharapkan penyelenggaraan WRHF 2015 akan lebih banyak partisipannya dan mendapatkan publikasi yang lebih luas. sehingga mampu meningkatkan daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia, khususnya Jakarta”.

Lokakarya ini akan menghadirkan para narasumber yang kompeten berjumlah 6 orang yaitu :
  1. Unsur Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), Ibu Naniek Widayati Priyomarsono dengan makalah “Review FSKN selaku mitra Pemprov DKI Jakarta dalam event WRHF 2013”.
  2. Unsur Kementerian Dalam Negeri, Direktur Seni Budaya, Agama dan Kemasyarakatan, Bapak Budi Prasetyo, dengan makalah “Perbedaan budaya dalam perspektif NKRI”.
  3. Unsur Kementerian Luar Negeri, Staf Ahli Bidang Ekonomi Sosial dan Budaya, Bapak Mohamad Wahid Supriadi, dengan makalah “Meningkatkan hubungan internasional melalui kerjasama budaya”.
  4. Sultan Kasepuhan XIV Cirebon, Yang Mulia PRA Arief Natadiningrat, SE., dengan makalah “Hubungan sejarah Jakarta dan Kesultanan Cirebon”.
  5. Unsur Malay Heritage Centre Singapore, Yang Mulia Tengku Mohammed Shawal Ibni Alm. Yang Mulia Tengku Abdul Aziz, dengan makalah “Kerajaan-Kerajaan di Asia Tenggara pada Masa Kejayaan Bumi Nusantara”.
  6. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta, Ahmad Salehudin, S.Ag. M.A. dengan makalah “Peran nilai-nilai Keraton dalam perkembangan peradaban”.
Peserta Lokakarya berjumlah 100 orang terdiri dari : Perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata se Indonesia, Rektorat, Asosiasi Kerajaan (FSKN, FKIKN, Yarasutra, Silatnas, dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat), Stakeholder Kepariwisataan, Dewan Pimpinan Daerah, Mahasiswa dan Pemerhati Budaya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Arie Budhiman menambahkan bahwa “Pada event Lokakarya ini juga sekaligus akan diluncurkan Logo dan website WRHF sebagai media komunikasi dan publikasi segala aktivitas WRHF”.**(i.s.).

Lokakarya Festival Agung Keraton Sedunia 2014

Berita Acara (10/12) - Keraton merupakan sebuah bentuk peradaban dari manusia yang menjadi latar belakang kebudayaan suatu bangsa dan berdirinya sebuah negara. Pada beberapa negara, bentuk pemerintahan kerajaan masih digunakan, hal ini menarik seiring perkembangan zaman masih ada bentuk pelestarian dan penghormatan terhadap kerajaan.

Dalam upaya meningkatkan pelestarian terhadap sejarah keraton yang ada di Indonesia dan Dunia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Lokakarya Festival Agung Keraton Sedunia (World Royal Heritage Festival). Hal ini dilaksanakan guna daya tarik Kota Jakarta sebagai destinasi pariwisata sekaligus positioning sebagai Kota Budaya

Bentuk apresiasi kegiatan ini berupa simposium dan kunjungan kerja yang hasilnya akan dijadikan referensi pelaksanaan Festival Agung Keraton Sedunia pada tahun 2015 untuk kedua kalinya.

Maksud dan tujuan dari kegiatan ini antara lain:
  1. Guna mendapatkan input dari perwakilan paguyuban keraton nusantara dan pemerintah daerah melalui simposium yang dapat dijadikan referensi dalam penyelenggaraan Festival Agung Keraton Sedunia.
  2. Mendapatkan gambaran umum secara langsung melalui kunjungan kerja ke keraton dan pusat pelestarian budaya yang dapat dijadikan referensi dalam pengelolaan pusat pelestarian budaya yang ada di Indonesia.
  3. Meningkatkan kerja sama antara paguyuban keraton nusantara dan pemerintah daerah dalam upaya pelestarian budaya.
  4. Meningkatkan citra Kota Jakarta sebagai destinasi pariwisata dan budaya melalui penyelenggaraan Festival Agung Keraton Sedunia.
Guna mengoptimalkan penyelenggaraan event budaya dimaksud, diperlukan masukan dari berbagai stakeholder melalui Seminar Lokakarya Festival Agung Keraton Sedunia yang akan dilaksanakan pada 12 s/d 14 Desember 2014 di Semanggi Ballroom, Hotel Grand Cempaka.

Persiapan "Hari Pariwisata Dunia" di Jakarta

Berita Acara (23/9) - Sejak tanggal 8 September 2014 lalu sampai saat ini, persiapan dari crew yang akan mengadakan event Gebyar Budaya dalam rangka memperingati Hari Pariwisata Dunia. Hari Pariwisata Dunia sering disebut ke dalam bahasa Inggris, yakni World Tourim Day (WTD). 

Seiring waktu berjalan, WTD sudah ada sejak zaman pra sejarah (pra history) hingga pariwisata dalam dunia modern. (Read: Sejarah Pariwisata Dunia).

Hari Pariwisata Dunia telah ditetapkan UNWTO (United Nation World Tourism Organization) sejak tanggal 27 September. Oleh karena itu, Dinas Pariwisata & Budaya DKI Jakarta akan mengadakan acara yang pertama kalinya di DKI Jakarta. Tujuannya adalah agar mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pariwisata sebagai bagian dari pembangunan, seperti ekonomi, sosial, dan budaya yang berkelanjutan.

Momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan potensi pariwisata yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Hal ini juga merupakan barometer Indonesia sebagai pusat budaya Nusantara. Selain itu, dapat mewujudkan sebagai pusat budaya Nusantara dan destinasi pariwisata utama di Indonesia yang patut dibanggakan.

Acara ini digelar oleh Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta dan akan dilaksanakan Dyandra Convex sebagai tim eksekutor lapangan.

STRUKTUR TIM PELAKSANA
Persiapan yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu oleh tim diantaranya:
  • Pembuatan kontrak penawaran.
  • Pembuatan surat permohonan dukungan SKPD terkait.
  • Pembuatan anggaran konsumsi.
  • Perancangan agenda program kegiatan.
  • Pembuatan surat perjanjian kontrak.
  • Pembuatan surat perintah mulai kerja (SPMK).
  • Perancangan list tamu undangan.
  • Pembuatan logo, buku acara, kartu undangan, pin, id-card, spanduk, umbul-umbul, flyer, dan masih banyak lagi sebagai penunjang informasi.
Progress persiapan saat ini baru sampai tahap:
  1. Produksi cetak poster dan flyer.
  2. Cetak list tempat duduk sebanyak 559 tamu undangan.
  3. Terbitnya surat dukungan dari dinas perhubungan, Satpol PP, dinas pemadam kebakaran, dinas pertamanan, dinas kesehatan, dinas PE, dinas kebersihan, dan dinas kominfomas.

Jakarta Menyambut Hari Pariwisata Dunia

Jakarta (19/9) - Berita acara kali ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta akan menggelar Gebyar Budaya 2014 di Taman Monas, Jakarta Pusat, pada  27 September 2014 mendatang. Acara ini diadakan dalam menyambut Hari Pariwisata Dunia.

Gebyar Budaya ini akan menampilkan berbagai budaya Nusantara dari Sabang sampai Merauke, sekaligus mengeksplorasi keanekaragaman budaya tradisional nusantara.

"Acara ini merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan Kota Jakarta sebagai pusat budaya nusantara, destinasi pariwisata dan budaya utama di Indonesia," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.

Gebyar Budaya juga akan menjadi media apresiasi terhadap keragaman seni budaya nusantara sebagai kekayaan bangsa Indonesia yang patut dibanggakan.

"Kita ingin meningkatkan promosi keragaman event seni budaya nusantara sebagai daya tarik pariwisata di Kota Jakarta," sambung Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.

Gebyar Budaya ini diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya nusantara yang beranekaragam sebagai kebanggaan bangsa Indonesia.

Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day) ditetapkan oleh United Nation World Tourism Organization (UNWTO) dan dirayakan setiap tanggal 27 September.

Perayaan ini sengaja dilakukan untuk mendorong kesadaran masyarakat Internasional akan pentingnya pariwisata sebagai bagian dari pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya yang berkelanjutan.

Kepedulian ini diharapkan tumbuh dari semua pihak baik pemerintah, dunia usaha pariwisata, dan masyarakat. Penerapan pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism development) dinilainya sangat tepat diterapkan dalam pengembangan produk pariwisata khususnya wisata budaya dan sejarah, wisata alam dan ecowisata, wisata olahraga rekreasi (menyelam, selancar, kapal layar, golf, sepeda, dan marathon) dengan mengoptimalkan potensi keragaman budaya dan keindahan alam yang dimiliki masyarakat setempat melalui event pariwisata.

Hari Pariwisata Dunia merupakan momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk terus menggali dan mengembangkan potensi pariwisata yang tersebar dan Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampe Rote untuk terus memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan kepariwisataan nasional, khususnya Jakarta sebagai kota metropolitan merupakan barometer Indonesia di kancah dunia.

Jakarta juga merupakan "melting pot" dan miniature Indonesia, merupakan pusat budaya nusantara, dimana keanekaragaman budaya nusantara tumbuh dan berkembang di Jakarta.

Sejalan dengan tema Hari Pariwisata Dunia 2014 "tourism and community development" maka event-event budaya yang ditampilkan di Jakarta melibatkan seluruh potensi masyarakat dan komunitas yang dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta. (+)


Nuun Syekh Siti Jenar


Teater Syahid sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UIN Jakarta menghadirkan kembali kisah Syekh Situ jenar dalam bentuk pertunjukan dengan lakon “Syekh Siti Jenar-Babad Geger Pengging” karya Saini K.M. kehadiran pertunjukan ini, akan ditayangkan pada bulan Mei. Sebelum pementasan berlangsung, diperlukan laku untuk mendukung hal tersebut, yakni mengadakan "Diskusi Publik Syekh SIti Jenar dalam Perspektif Kekinian" dengan mengundang para pembicara handal hingga terbahas dan terjawab persoalan-persoalan yang selama ini menjadi perdebatan.

Para pembicara meliputi,
  • Achmad Chodjim, sudah tak asing di mata kaum akademisi dan kaum spiritual, beliau akan memaparkan ajaran dan doktrin Syekh Siti Jenar.
  • Seno Gumira Ajidarma, salah seorang seniman yang intens dalam mengembangkan pemikiran yang inspiratif ini akan memberikan wejangannya tentang Syekh hSiti Jenar ditinjau dari sastra dramawi.
  • Sudirman Tebba, seorang akademisi yang mengajar di sebuah Universitas Islam ini akan melihat sisi Syekh Siti Jenar dalam tinjauan Sosial Politik.
  • Arie Batubara, dulu yang aktif berkesenian di institusinya, hingga belakangan menjadi pengamat budaya dan seni ini, mencoba menolah karya Saini K.M dengan lakon “Syekh Siti Jenar-Babad Geger Pengging” ini menjadi sebuah pertunjukkan dengan Teater Syahid. Maka, dihadirkanlah pada acara diskusi tersebut sebuah cuplikan/ trailer pementasan itu.
Dan tak ketinggalan Wong Dzolim sebagai moderator acara tersebut.

Acara “Diskusi Publik Syekh SIti Jenar dalam Perspektif Kekinian” akan dilaksanakan pada:
Hari      : Rabu, 18 April 2012
Pukul    : 09.00 – 14.00 WIB
Tempat : Di Aula Student Center - UIN Syarif Hhidayatullah Jakarta.
Selamat berpartisipasi, semoga apa yang dilakukan dari acara ini dapat bisa sesuai dengan realita yang kita hadapi. Salam Damai dan Kasih!!!

Gerhana Bulan Ketiga

Hampir 1 tahun yang lalu, tepatnya Kamis, 23 Juni 2011 Pukul 19.30 WIB di Auditorium Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan. Sanggar Nuun Yogyakarta menyelenggarakan Pementasan Produksi Teater XVIII, yang dihadiri oleh Mukhosis Noor (Sutradara) dan Wahyudin (Naskah). Pementasan tersebut, dikenai biaya HTM sebesar Rp 20.000,- yang mana pemesanan tiketnya melalui:
  • Bim-Bim - 085647745412
  • Manahan (Sintesa) - 087882690446
  • Kismayeni (Teater Syahid) - 085692422246